Pembuatan PCB dari Gambar di Kertas

Gambar jalur rangkaian yang dicetak di kertas dengan menggunakan printer laser dapat dipindahkan ke media PCB. Cara kerja printer laser adalah memanasi bubuk tinta sehingga menempel di kertas. Setelah tinta menempel di kertas, tinta dipindah ke PCB dengan cara dipanasi juga. Oleh karena itu, yang bisa digunakan adalah hasil cetakan printer laser, dan bukan printer tinta cair.

Kertas yang digunakan bisa dengan kertas blueprint, atau kertas transfer, atau ada yang ide pakai kertas foto untuk printer, yang jelas idenya adalah memindahkan tinta printer laser ke PCB dengan cara dipanasi.

Dari beberapa kali percobaan, kertas yang pernah saya pakai adalah kertas transfer dan kertas foto. Tapi berhubung mahal, aku eksperimen dengan yang lain, yaitu kertas biasa dan kertas kalender (diprint di bagian belakang yang putih polos). Hasil untuk kertas kalender lumayan, yang kertas HVS kurang bagus, tapi lumayan untuk penghematan, dan menurutku bisa ditingkatkan jika mau lebih telaten.

Ada lagi cara yang bisa digunakan, yaitu mencetak gambar rangkaian di kertas biasa, kemudian dengan foto kopi, gambar itu disalin ke plastik transparansi/ OHP. Yang perlu dicatat, plastik ini khusus untuk foto kopi, sehingga relatif tahan panas. Berbeda dengan plastik mika yang digunakan pada penjilidan, plastik transparansi ini lebih tebal dan lebih tahan panas. Jadi, jangan sampai keliru memilih.

Yang perlu diperhatikan adalah, gambar yang dicetak harus dalam kondisi dibalik (mirror/ flip, ditukar kiri dan kanannya, bukan diputar/ rotate). Aplikasi Protel memiliki fasilitas untuk mencetak dengan tipe mirror.

Pemanasannya biasanya pakai setrika. Sudah aku coba, lebih bagus lagi kalau pakai solder blower. Ukuran panasnya, kalau memakai standar printer laser (suhu untuk melumerkan tinta), bisa dibaca di tempat printernya, sekitar 130 derajat C.

Permasalahan yang sering muncul:

  • Terlalu panas
    => lapisan tembaga PCB jadi rusak, PCB melengkung
  • Panas kurang merata
    => tinta printer laser jadi tidak semua menempel di PCB
    => kalau dengan blower jadi bisa lebih diratakan panasnya
  • Kertas bergeser
    => gambar jalur jadi rusak

Tips:

  • Potong PCB secukupnya
    Ukuran PCB kira-kira lebih besar dari ukuran gambar jalur di kertas
  • Kertas ditempel ke PCB
    Sisa kertas dilipat ke balik PCB dan direkatkan ke balik PCB (bagian yang tidak bertembaga) dengan isolasi kertas (kalau pakai kertas HVS pelipatannya tidak sekaku kertas lain)
  • Salah satu pojok gambar disetrika sedikit
    Pojok gambar disetrika hingga kertas menempel di PCB (supaya gambar tidak bergeser), baru kemudian ke bagian lain.
  • Pemanasan dengan setrika lebih baik dengan ditekan-tekan
    Intinya memanasi kertas yang terkena tinta, bukan dengan menggosok seperti menyetrika baju agar kertas tidak lengket dengan setrika dan bergeser dari PCB.
    Pemanasan dengan blower dapat lebih teliti lagi dengan mengikuti tiap jalur.

Setelah tinta menempel di PCB, pada dasarnya yang dibutuhkan adalah tinta tersebut dan kertas printout harus dihilangkan. Dengan menggunakan air, kertas ini jadi hancur (PCB dimasukkan ke air, digosok-gosok dengan tangan, atau media lain asal jangan merusak tinta). Hasilnya, PCB dengan gambar jalur dari tinta laser (warna hitam, atau agak putih karena sisa kertas). Perlu ditelusuri lagi jalurnya agar untuk menghilangkan sisa kertas, biasanya aku memakai jarum pentul untuk mengorek. Untuk perbaikan jalur yang belum kena tinta bisa mengunakan spidol permanen
(misalkan untuk OHP).

Melarutkan PCB yang telah bergambar jalur rangkaian, biasanya menggunakan larutan FeCl3 (feri klorida) yang sebaiknya hangat (kalau terlalu panas kalau kena tubuh kan berbahaya) supaya mempercepat pelarutan, kalau perlu sambil digoyang-goyang. hati-hati jangan kena baju, soalnya sangat susah dihilangkan.

Setelah tembaga di PCB di luar jalur terlarut, sisa tinta laser harus dihilangkan. yang praktis mungkin pakai amplas halus atau abu gosok, tetapi menggerus jalur tembaga. Aku biasanya pakai tiner tinta sablon (mudah dicari di toko bahan sablon) kemudian dicuci pakai sabun colek.

Sekedar hasil pengalaman. Semoga bermanfaat.


Yang perlu dipersiapkan

  • Kertas tempat untuk mencetak
    (kertas blue print, kertas transfer, kertas foto, kertas kalender)
    Bisa juga kertas biasa, dengan catatan nantinya dipindah menggunakan foto kopi ke plastik
    transparansi
  • Printer laser
  • Aplikasi untuk mencetak
    Untuk file-file PCB, bisa menggunakan aplikasi CAD semacam Protel, jika gambar sudah dalam bentuk PDF atau berupa file gambar, maka gunakan aplikasi yang sesuai
  • PCB dengan ukuran sedikit lebih besar daripada gambar
  • Setrika dan solder blower
  • Isolasi kertas
    Untuk mengeratkan penempelan kertas pada PCB
  • Feri Klorida, atau sejenis
    Untuk melarutkan tembaga PCB yang tidak tertutup oleh tinta
  • Air
    Untuk menghilangkan kertas, setelah kertas dan tinta menempel pada PCB
  • Ampelas halus, abu gosok, atau pelarut/ tiner tinta sablon
    Untuk menghilangkan tinta pada PCB, setelah dilakukan pelarutan PCB
  • Sabun
    Untuk membersihkan sisa-sisa tiner. sabun colek mudah diperoleh dan mampu membersihkan
    dengan baik

Kejawen (Bagian Awal)

Kejawen, pembentukan katanya berasal dari kata Jawi (artinya adalah Jawa, tetapi dalam tingkat bahasa yang halus/ tinggi) diimbuhi ke-an, menjadi kejawian (seperti pembentukan kata “kasepuhan“). Kata kejawian ini, dengan keluwesan “lidah orang Jawa”, meluruh menjadi kejawen .

Kejawian atau kejawen memiliki arti yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawi atau Jawa –dalam hal ini orang Jawa–, dalam segala sendi kehidupan.

Kejawen = Kultur Jawa
Kejawen memiliki kedekatan arti dengan kultur Jawa, yang berarti juga melingkupi bagaimana seorang Jawa itu bertingkah polah menjalani hidup.
Karena berupa kultur, kejawen juga melingkupi pola pikir serta sikap dan pola kehidupan. Sehingga orang Jawa yang memiliki pola pikir serta sikap dan pola kehidupan yang tidak sesuai dengan kultur Jawa akan dianggap sebagai orang yang tidak Jawa (tidak “njawani“).

Pola-pola seperti andhap asor (santun), tepa slira (tenggang rasa), menghormati orang lain, guyub dan suka menolong, bersahaja, hidup dalam harmoni, serta mendekat dengan alam termasuk di dalamnya. Orang Jawa yang egois, kasar/ arogan, dan lupa dengan asal usulnya akan dianggap sebagai orang yang tidak “njawani“.

Pembentukan diri agar memiliki pola pikir serta sikap kehidupan sebagai orang Jawa, dilalui dengan berbagai pola kehidupan tertentu, misalkan lelaku prihatin (untuk menempa diri agar kuat dan peka) dalam kehidupan sehari-hari.

Kejawen, Ritual, Klenik, dan Penyelewengan-penyelewengan itu
Namun, pola hidup ini tidak identik dengan ritual. Orang yang ingin hidup bersahaja hanya perlu menerapkan kebersahajaan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak perlu dilalui dengan ritual tertentu yang berpeluang menjadi topeng kepalsuan. Ritual berbagi rejeki untuk saling membantu, hanya akan menjadi kepalsuan bila dalam kesehariannya dikenal sebagai orang yang pelit dan kikir.

Justru ritual-ritual yang palsu seperti ini pada dasarnya bukan asli Jawa, melainkan bawaan dari budaya asing melalui asimilasi budaya Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan budaya Kristen pun ikut-ikutan berasimilasikan dan mengaku sebagai budaya Jawa, dan dapat dilihat di berbagai wilayah di sekitar Magelang atau Kediri.

Ritual-ritual hasil asimilasi ini yang seringkali tidak dipahami “filsafat dan ilmu”-nya oleh orang Jawa, sehingga terjadilah ritual-ritual tanpa ilmu yang akhirnya menjadi klenik. (Tentang klenik, ada di posting sebelumnya)

Tanpa landasan pemahaman ilmu dan filsafat yang melatarbelakanginya, pehamanan akan bergeser. Jika ingin menempa diri agar kuat dan peka, maka pemahaman atas “kuat” ini menjadi bermacam-macam. Lelaku prihatin yang awalnya agar menjadi kuat dalam menjalani hidup (kuat mental, kuat jiwa, kuat spiritual, kuat keyakinan, kuat dalam niat dan kemauan, sembada, kuat dalam pengendalian diri, dan seterusnya), termasuk kuat dalam arti fisik (kekuatan olah ragawi dan kekuatan hasil olah kanuragan), kemudian bergeser hanya satu sisi saja, misalkan hanya dipahami kuat dalam arti olah kanuragan. Akhirnya, proses lelaku yang dijalani pun menjadi berbeda niatnya, dan lahirlah klenik.

Ketika hidup bersama alam, ditemukan adanya keseimbangan dan kehamonisan, dan ini yang kemudian menjadi landasan dalam tatanan kehidupan, hidup yang harmonis. Dalam usaha untuk memahami kehidupan, masyarakat Jawa menemukan bahwa kehidupan itu tidak lepas dari hidup bermasyarakat. Sehingga, penghormatan atas hadirnya individu lain, kesantunan, dan hidup saling membutuhkan adalah syarat untuk harmoni dalam masyarakat. Sikap hidup yang sesungguhnya menggambarkan adanya sikap egaliter dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Namun, ada beberapa hal yang kemudian dipahami secara salah. Hamonis kemudian dipahami secara salah menjadi antikonflik. Menghormati orang lain dipahami secara salah menjadi rendah diri yang berlebihan dan penjilatan kepada yang lebih berkuasa atau berharta.

Peka berarti harus memahami segala sesuatu yang tidak biasa, agar kemudian bisa mawas diri. Ketika ada suatu kesalahan yang dilakukan, dan orang-orang di sekitarnya justru diam, harus bisa dipahami bahwa sikap diam itu adalah cara agar pelaku kesalahan menjadi peka atas apa yang telah dilakukannya. Mendiamkan ini adalah upaya untuk memperkecil konflik. Jika tidak peka, maka hal itu dianggap sebagai hal yang menyakitkan bagi orang lain. Semacam “kebangetan banget, sih. Kok tidak sadar juga”. Untuk mereduksi konflik, sering kali orang Jawa bersikap: “ngalah, ngalih, ngamuk”. Pertama kali adalah mengalah, mendiamkan agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu. Jika masih belum sadar, maka “ngalih”, menghindari, agar emosi tidak merusak suasana. Kemudian, jika masih belum sadar, langkah tegas diperlukan untuk itu, walau tidak harus berari “mengamuk”.

Pemahaman yang salah terhadap hal ini juga sering terjadi, dan dikenalah orang Jawa secara salah sebagai orang yang pendiam, tetapi pendendam. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa dibalik sikap yang rendah hati dan menghormati, tersimpan pula sifat kasar dan ganas. (Mungkin pada dasarnya orang Jawa memang kasar dan ganas, dan oleh sebab itu ada kejawen untuk meredam dan mengarahkan)

Dalam mawas diri dan pembentukan kepekaan diri, dikenal ada istilah “guru sejati”. Guru adalah yang dianggap mampu mendidik dan mengarahkan, dan guru yang harus bisa mendidik dan mengarahkan adalah diri pribadi. Guru sejati menjadi semacam “alter ego” yang mengawasi dan melakukan pengarahan terhadap “alter ego” yang lain. Dalam klenik, guru sejati hanya dipahami sebagai pembentukan “sosok lain”, yang kemudian bersinggungan dengan “raga sukma”, maupun kemunculan “kembaran” di tempat lain pada saat bersamaan.

Kepekaan diasah dengan usaha untuk bisa ikut merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh yang lain. Kebersahajaan (meninggalkan kemewahan) dan lelaku prihatin (merasakan lapar dan kesusahan hidup), merupaan upaya untuk itu. Namun, kemudian muncul ritual-ritual, seperti bertapa dan berbagai jenis puasa (ngebleng, pati geni, mutih, ngrowot, dan seterusnya), yang jelas-jelas merupakan asimilasi dari budaya asing. Karena sebenarnya lelaku itu adalah keseharian, bukan ritual. Ritual yang dilakukan secara rajin, tetapi dalam keseharian masih bergelimang kemewahan dan tidak peduli akan kesusahan hidup yang dialami yang lain, hanyalah berupa topeng kepalsuan, dan tidak akan mengupayakan kepekaan.

Kepekaan diasah pula dengan mendekatkan diri dengan alam, agar bisa menangkap tanda-tanda yang diberikan oleh alam. Salah satu hasil mengasah kepekaan ini adalah “ilmu titen“, yang “niteni“, meneliti, mencermati berbagai tanda-tanda. Ilmu titen ini akan menjadi klenik, jika hanya didasarkan atas hitung-hitungan saja, sedangkan tanda-tanda alam tidak lagi dicermati.

Hal yang praktis dalam “titen” ini adalah, orang Jawa biasanya memetakan posisi dalam arah mata angin. Sehingga wajar jika menjelaskan posisi dalam arah mata angin (“lor“/ utara, “kidul“/ selatan, “wetan“/ timur, dan “kulon“/ barat) dan bukan dalam arah kiri atau kanan. Misalkan untuk lokasi rumah, maka bisa dijelaskan menjadi: dari perempatan terminal, ke utara, kemududian ada belokan, ke barat sedikit terus ke utara lagi. Sayangnya, seringkali jika tidak paham arah mata angin, maka akan merasa bingung dan disorientasi lokasi.

Titen” yang lain, adalah memahami waktu tanpa bantuan jam. Jika pada siang hari hal ini dapat dilakukan dengan bantuan matahari, maka di saat malam hari pemahaman waktu dilakukan dengan mencermati kondisi alam dan isinya, misalkan perilaku binatang, perilaku orang-orang, perubahan suhu, angin, atau cuaca. Akan sangat kelihatan ketika berada di wilayah yang jauh dari keramaian. Jam 8 malam biasanya bayi/ anak kecil sudah tidur, jam 10 malam angin mulai reda (bila ada obor penerangan, api dan asap mulai lurus ke atas), jam 2 pagi suhu udara mulai turun secara signifikan, dan seterusnya.

Untuk urusan bercocok tanam, karena sangat ditentukan oleh musim, perubahan-perubahan kondisi alam menjadi hal yang dicermati, misalkan untuk memperkirakan kedatangan musim hujan, musim angin digunakan sebagai tanda, dan jika musim angin sudah mulai reda, maka musim hujan akan segera tiba. Musim kemarau biasanya ditandai dengan perilaku hewan “gareng pung“, sebagaimana orang Jepang menandai musim semi berdasar perilaku cenggeret, hewan yang sejenis. Pendanaan-penandaan musim ini kemudian diwujudkan dalam sisem kalendar, dan Jawa adalah salah satu dari sedikit suku bangsa di dunia yang memiliki sistem kalendar sendiri (walau pada perkembangannya mengalami asimilasi dengan budaya lain), selain bahasa dan tulisan tersendiri. Namun, jika hanya menyandarkan diri pada perhitungan-perhitungan, dan tidak lagi mencermati tanda-tanda alam, maka terlahirlah lagi klenik, ritual-ritual yang meninggalkan filosofi dan ilmu yang melandasinya.

Mendekatkan diri dengan alam adalah upaya untuk mengasah kepekaan juga, agar mampu hidup harmonis dengan alam dan untuk keperluan-keperluan praktis, misalkan untuk orientasi lokasi, orientasi waktu, dan keperluan pertanian.

Kejawen dan Perkembangan Jaman: Asimilasi, Egoisme, atau Politik?
Dalam banyak sisi, kejawen selalu berkembang & menyesuaikan diri, mulai dari era prapengaruh budaya asing, era kedatangan suku bangsa asing yang membawa berbagai budaya dan teknologi (budaya Hindu & Budha, Cina, Timur Tengah dan Asia Kecil, Islam, serta bangsa barat dan Kristen), hingga pengaruh budaya global saat ini. Pun, kultur tidak hanya sebatas pola pikir dan tingkah laku, melainkan juga produk dari kultur itu sendiri, misalkan bahasa, tulisan, sastera, dan ilmu-ilmu lainnya. Konon, orang Jawa tidak akan mengenal berbagai peralatan dan teknologi bertani (bahkan bajak), jika tidak ada pengaruh dari Cina (http://kejawen.suaramerdeka.com/index.php?id=135).

Nah, jika sedari dahulu kejawen terasimilasi, tetapi tetap berciri khas Jawa, budaya Hindu tapi Jawa, Budha tapi Jawa, orang Cina tapi Jawa, Islam tapi Jawa, Kristen tapi Jawa. (Catatan mengenai Islam tapi Jawa dan bukan Arab, bisa dilihat di sini). Sehingga, bukan tidak mungkin pada era ini kejawen akan bisa bertahan seperti sebelumnya: modern tapi Jawa.

Walau perkembangannya, tidak hanya budaya asing yang berpengaruh, melainkan juga kepentingan-kepentingan politik, mulai dari raja-raja Jawa (yang negatif: ekseklusivitas, rasis, nonegaliter; yang positif: lahirnya ilmu-ilmu baru kejawen di berbagai bidang), penjajah (yang suka memutar balik fakta sejarah, karena takut budaya lokal jika nantinya maju), hingga yang sangat sangat khas dari seorang Suharto (sebagaimana penjajah, dan suka senyum, yang dapat diartikan sebagaimana diamnya orang Jawa: kayak gitu kok ndak nyadar-nyadar, to). Mungkin, dari seorang Suharto dunia mengenal kejawen , tetapi juga melalui seorang Suharto dunia tidak mengenal apa sesungguhnya kejawen .

Kejawen adalah cara untuk berpola pikir, bersikap, dan berpola hidup sebagaimana seharusnya orang Jawa, dan tidak sama dengan klenik. Memahami kejawen tanpa memahami kehidupan manusia dan dan memahami alam akan menjadi klenik.

Bacaan lebih lanjut tentang kejawen, serta pola pikir & sikap orang Jawa: http://kejawen.suaramerdeka.com/

Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (3)

Budaya Terbuka v.s. Budaya Gedibal: Kejawen Perlu Diluruskan Kembali
Salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantukan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.

Kepicikan dan kejumudan yang didasari oleh sikap ambigu; menerima, tetapi menolak dominasi asing, menerima pengaruh asing, tetapi pilih-pilih, menerima pengaruh, tetapi dicampur dan direkayasa sesuai kehendak.

Kemudian, untuk melawan keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin sebagai khas pekerja dan pedangan, sekaligus untuk mengekalkan kepicikan dan kejumudan, dibuatlah paham: “dedagang iku asor“, berdagang itu hina. Efeknya, lahirlah para orang yang lebih rela mengabdi kepada kekuasaan, sebagai pesuruh, sebagai “gedibal“, bala sadhukan, orang-orang yang bisa ditendang ke sana ke mari, yang dilengkapi dengan etik kerja malas dan menjilat. Dua kutub yang di dunia kerja saat ini masih terus ada: menjadi buruh (swasta/ negri) atau enterpreuner.

Sedangkan ilmu dan “lelaku” untuk malas dan menjilat itu tidaklah serumit dan seberat pada “lelaku” untuk rajin dan open-hearted.

Dengan kata lain, ilmu-ilmu warisan leluhur semangkin lama semangkin hilang, semangkin lama tidak ada lagi yang memahami. Yang dipertahankan hanyalah hapalan terhadap label dan prosesi, tetapi tanpa ilmu yang melandasi, yang kemudian semakin diagung-agungkan. Nasib Islam mungkin tak akan jauh sebagaimana nasib gamelan yang sedianya untuk memikat masyarakat agar mau mendekat dan menerima budaya baru, tetapi bukan untuk dimanfaatkan melainkan malah disembah-sembah. Bid’ah, syirik, klenik, sesat dan menyesatkan.

Syukurlah, belum lama ini ada kabar bahwa UII dan UMS tergerak untuk mengkaji kultur-kultur kraton dalam kaitannya dengan Islam, yang diharapkan dapat membuka kembali ilmu-ilmu yang melandasi berbagai prosesi.

Kesimpulannya:
[] Klenik adalah amalan tanpa ilmu.
[] Sedangkan tradisi2 tua makin lama pemahanan keilmuannya makin hilang, dengan kata lain sering kali menjadi prosesi tanpa pemahaman keilmuan.
[] A=B, C=B, maka C=A

(Sementara) Tamat
p.s. SUmber data: dari berbagai artikel di internet

Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (2)

Ada ilmu yg telah dilupakan dan yg melupakan menjadi tersesat.

Kebodohan dan Ketersesatan
Jaman dahulu, orang-orang di jaman itu bisa memahami bagaimana pengaruh alam terhadap kondisi manusia. Sehingga muncul “ilmu” yang memahami pengaruh perubahan-perubahan alam terhadap kondisi manusia, misalkan posisi bulan & matahari, siang & malam, dll. Salah satu pengaruh perubahan alam ini adalah pengaruh kondisi gravitasi benda-benda angkasa terhadap emosi manusia, ketika bulan & matahari dekat maka pengaruh gravitasi dari angkasa yang memiliki vektor berlawanan dg gravitasi bumi terhadap manusia sedang puncak-puncaknya.

Sistem kalender di Cina pun lahir karena pemahaman-pemahanan ini, dan digunakan untuk mengetahui kapan seseorang memiliki dukungan pengaruh dari alam yang paling kuat. Saat itu, raja-raja Cina menggunakan kalender agar ketika senggama bisa dalam “kondisi puncak”, baik secara lahir batin maupun dalam hal dukungan pengaruh alam (termasuk spiritual, jika sebelumnya telah menjalani “lelaku”), sehingga keturunan yang dihasilkan juga prima. Untuk memudahkan perhitungan, maka dalam penanggalan diberikan patokan-patokan dan nama-nama. Namun, ilmu yg mendasari makin lama makin tidak diketahui, dan yang semakin berkembang adalah menghapal patokan & nama, dan meramalkan jika pada saat waktu tertentu, maka kondisinya adalah bla-bla-bla. Lahirlah klenik.

Jaman dulu, di kawasan Babilonia, astronomi telah dikenal dan berkembang pesat. Perubahan posisi bumi terhadap matahari dapat dilihat dari perubahan posisi rasi bintang. Jika orang-orang jaman itu, seperti halnya orang-orang Cina, memahami bahwa posisi matahari & bulan mempengaruhi emosi seseorang, maka pada berbagai posisi rasi itu pengaruh alam mengalami perbedaan. Ketika astronomi mulai dilupakan pada generasi-generasi berikutnya, dan yang dihapalkan adalah patokan rasi-rasi dan pembawaan orang-orang yang kelahirannya dinaungi rasi-rasi tersebut, maka lahirlah klenik dalam wujud astrologi.

Dari Alat Bantu Berubah Menjadi Sesembahan
Walisanga mengadopsi budaya lokal agar masyarakat tidak merasa asing dengan “budaya baru”, dan lahirlah gamelan, wayang, dan seni-seni yang khas, yang tidak berbeda dengan sebelumnya, tetapi juga tidak sama. Adanya wayang kulit yang bermata satu dan bertangan panjang hingga bawah lutut, dengan mengatasnamakan artistik, tetapi sesunguhnya adalah agar wayang tidak mirip dengan manusia, karena manusia yg normal bermata dua dan bertangan yang panjangnya tidak di bawah lutut. (Entah mengapa malah wayang golek jadi mirip kembali dg manusia)

Gamelan, wayang, dan seni-seni lainya dimanfaatkan untuk membawa masyarakat agar mendekat kepada para wali, sehingga setelah dekat (inklusif) akan mudah untuk diajak kepada Islam. Namun, kemudian penguasa-penguasa generasi berikutnya tidak lagi inklusif, dan menolak untuk menyamakan derajat. Bahkan, sarana-sarana seni tidak lagi digunakan untuk saling mendekatkan diri, melainkan untuk disembah-sembah.

Penyimpangan: dari Mengabaikan dan Melebih-lebihkan atau Politik?
Kalender jawa mataram peninggalan Sultan Agung pada awalnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat, terutama untuk penentuan masa-masa bertani, sekaligus untuk mendekatkan masyarakat dengan budaya Islam (walau agar “lidah lokal” bisa mudah mengucapkan, maka nama-nama bulan dan tahun pun kemudian mengalami perubahan). Masyarakat jawa mengenal bulan Pasa sebagai bulan Ramadlan, dan tahu bahwa ada ritual puasa pada saat itu.

Namun, penyimpangan sering berawal dari melebih-lebihkan maupun karena meremehkan. Dianggaplah “puasa Islam” itu kurang mantap, tidak seperti ketika orang2 jaman dahulu bertapa, atau paling tidak berpuasa yang lama yang terus menerus (ngebleng), atau berpuasa tetapi berbukanya yang dengan tetap lelaku juhud (misalkan “puasa mutih”, berbuka hanya dg makanan pokok tanpa bumbu dan lauk pauk, atau “puasa ngrowot” yang berbuka dg makanana yang tidak dimasak, misalkan buah atau umbi).

Pengaruh aliran syi’ah yang dibawa oleh sebagian wali juga memberikan pengaruh pada perkembangan Islam di Jawa. Pengagungan hari Asyu’ara membuat masyarakat Jawa demikian memuja dan mengeramatkan bulan Sura. Pengeramatan yg aneh juga, ketika orang awam ditabukan bikin acara di bulan tersebut kecuali kalau mau menanggung resiko celaka, tetapi justru para penguasa (orang keraton) membuat acara (misalkan pernikahan) di bulan itu, karena dipercaya membawa berkah yang besar.

Jawa yang Jawa: Egoisme Orang Jawa dan Kebodohan
Ketika jaman Demak, raja generasi kedua (Adipati Unus, suka memakai gelar Adipati dan bukan raja, dan menyandingkan pada gelarnya dengan nama Yunus yang merupakan ayahnya, untuk menghormati ayahnya yang merupakan Ulama besar di jamannya) yang beretnik Arab, memimpin penyerangan terhadap Portugis di Malaka. Pati Unus (yang bergelar pangeran Sabrang Lor) yang dibantu oleh orang-orang Melayu (Islam) yang terusir dari dari Malaka, akhirnya gugur bersama anaknya yang sulung dan yang ketiga. Ada desas-desus bahwa kematiannya disebabkan karena ada pihak di Demak yang menginginkan kekuasaan jika kematiannya terjadi. Selain karena perebutan kekuasaan, sentimen kesukuan juga muncul. Orang Jawa tidak rela jika dipertuan oleh orang bukan Jawa. Aneh juga, nyatanya sejak jaman penjajahan hingga sekarang selalu saja ada penguasa yang mengabdi sepenuh hati kepada orang asing.

Nah, kupikir itulah beberapa faktor yang menjerumuskan masyarakat, menerima orang asing tetapi menolak dominasi. Menerima pengaruh asing, tetapi ketika mampu (ketika menjadi penguasa, atau ketika tidak adalagi yang melakukan kontrol, tidak seperti pada jaman walisanga), maka hanya memilih-pilih yang menguntungkan. Ditambah lagi, mencampurnya dengan hasil pemikiran sendiri.

Maka lahirlah Islam Jawa (khas Mataram) yang bukan Arab. Islam tetapi hanya label (santri-priayi-abangan). Islam yang ya Islam ya makan saren (darah dari penyembelihan yang kemudian digoreng, bisa untuk obat tambah darah, katanya), ya Islam ya Ma-lima (main judi, madhat/ teler –narkoba, kalau jaman dulu biasanya candu–, minum/ mabuk-mabukan, madon/ main perempuan, dan maling), penguasa yang ya (berlabel) Islam ya menyembelih ulama. Islam tetapi penuh dengan klenik, penuh dengan prosesi tetapi tidak shalat, tidak puasa Ramadan, tidak haji, tidak zakat.

Kejayaan di Jawa v.s di Dunia
Waktu antara Mataram Islam dengan Mataram Kuna merentang berabad-abad (7/8 s.d. 15/16 ?), tetapi tetap saja terpuruk.

Cobalah suatu ketika membuka M$ Encarta, pada jaman ketika Mataram Kuna tengah gegap gempita dengan pembangunan Borobudur, tariklah garis vertikal, maka akan diketemukan pada jaman yang sama, di Arab sana telah lahir Shahih Bukhori.

Ketika di Jawa, abad demi abad, diisi dengan kejumudan, pencerahan di dunia lain tengah berkembang.

Bersambung
p.s. Sumber data: dari berbagai artikel di internet

Ilmu, Klenik, dan Tradisi-tradisi Tua Islam-Jawa (1)

Keterpurukan Masyarakat Jawa
Peran kerajaan-kerajaan (berlabel) Islam di Jawa –sejak Demak, Cirebon, Banten, Pajang, hingga Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta (kemudian juga ada Mangkunegaran sebagai sempalannya) dan Kasultanan Ngayogyakarta– pada perkembangan (terutama secara kuantitas) Islam di Jawa bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan.

Namun, mungkin benar juga kata PAT bahwa salah satu keterpurukan masyarakat Jawa adalah akibat terbelenggu oleh klenik dan tahyul. Keterbukaan hati, keluasan wawasan, dan etik kerja rajin masyarakat pesisir (komunitas awal mula Islam di Jawa) tergantikan oleh kepicikan dan kejumudan, yang disokong oleh mitos, klenik, dan tahyul.

Sang Sultan Jogja pun pernah berkata, sebenarnya mitos-mitos itu hanya untuk mempertahankan kekuasaan, bahwa raja-raja Mataram (yang tidak ada hubungan darah/ keluarga dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya) mendapat restu dari penguasa alam (yang disimbolkan dengan laut kidul & merapi, juga lawu), agar masyarakat awam memberikan dukungan. Restu penguasa plus ketiadaan hubungan darah ini pun digunakan untuk mencegah keturunan dari kerajaan-kerajaan sebelumnya bila hendak menuntut hak tahta.

Mitos yang Begitu Tua
Mitos laut kidul ini sebenarnya bukan orisinil ide mataram, sejak jaman Galuh di pasundan. Dinasti-dinasti pembangun candi2 di Jawa Tengah –i.e. Borobudur, Prambanan, Dieng, etc–, memiliki hubungan keluarga –dari pernikahan– dengan kerajaan-kerajaan di pasundan. Diansti ini kemudian musna dan masyarakatnya eksodus ke Jawa Timur, dan oleh Empu Sindok dibentuklah kerajaan baru dengan Airlangga sebagai salah satu penerusnya. Pusaka2 Mataram kuna konon masih ada pada jaman Airlangga. Kemudian jaman berganti dan muncullah Kahuripan, Kediri (dan Jenggala), Singasari, dan Majapahit.

Kesemua kerajaan ini memiliki jalur hubungan keluarga, termasuk pendiri Demak pun anak Brawijaya II, raja Majapahit terahir. Demak dengan Cirebon dan Banten juga memiliki hubungan keluarga. Jaka Tingkir sebagai pendiri Pajang pun merupakan menantu raja Demak, dan ayahnya pun juga keturunan Brawijaya.

Nah, dari alur keluarga ini, mitos laut kidul sudah begitu tuanya. Bahkan penyebarannya demikian luas, bahkan di Nusa Tenggara dan Maluku dikenal juga mitos yang senada, yang mungkin terbawa ketika Sriwijaya (yang memiliki hubungan keluarga yang erat dengan Mataram Kuna) dan Majapahit melakukan ekspansi.

Itu sekedar kekagumanku saja, kok bisa-bisanya cerita setua itu terus-menerus dipertahankan.

Penguasa yang Mampu dan yang Tidak Mampu
Nah, raja-raja Jawa (berlabel) Islam ini memang yang memberi fasilitas bagi perkembangan Islam di tanah Jawa. Namun, tidak semata-mata peran kerajaan saja yang terlibat. Efort zonder kekuasaan pun bisa sukses, misalkan daerah Pengging (Boyolali) yang dimakmurkan oleh Kebo Kananga ayah Jaka Tingkir yang justru menghindar dari kekuasaan, juga berbagai pondok pesantren tua, misalkan di (kalau tidak salah) kebumen yang lebih tua dari kebumen sendiri, yang jauh dari hiruk pikuk kekuasaan.

Penguasa pun tidak selamanya mendukung. Sultan Agung memang OK, tetapi ada keturunannya yang justru menyembelih banyak kiayi. Keturunannya pun ada yang mati dalam pelarian dikejar-kejar rakyatnya. Penguasa ada yang baik ada yang buruk. Sultan Agung dipandang memiliki keluasan ilmu, hingga Islam makmur di jamannya. Adanya penanggalan Jawa-Islam adalah pada jamannya, yang menggabungkan penanggalan Saka (berbasis matahari) dengan Hijriyah (yang qomariayah), dengan angka tahun yang tetap meneruskan tahun Saka (terakhir yang asli) dan tanggal serta bulan yang mengadopsi peredaran bulan yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat, misalkan untuk penentuan masa-masa dalam bertani. Namun ada juga penguasa-penguasa bodoh yang tidak memahami “ilmu” dari peninggalan wali sanga dan leluhurnya, malah terjebak di klenik dan tahayul.

Yah, ini mencoba tinjauan dari sisi sejarah, bahwa ada ilmu yang telah dilupakan dan yang melupakan menjadi tersesat

Bersambung.
p.s. sumber data: dari berbagai tulisan di internet